Blog
Hakikat Kebahagiaan
- 30 Oktober 2020
- Posted by: Dr. Swasto Imam Teguh Prabowo, S.Pd., M.Pd.I
- Category: Uncategorized
وَمَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ
“Barangsiapa yang bahagia dengan kebaikan dan bersedih akan keburukan maka ia adalah orang yang beriman (mu’min).” (HR. Ahmad)
Muqaddimah
Kebahagiaan adalah lawan dari kesedihan, bahagia adalah suatu kelezatan yang terletak dalam sanubari karena mendapatkan sesuatu yang dicintai atau diinginkannya, sebaliknya kesedihan adalah rasa sakit di dalam sanubari karena kehilangan atau luput dari sesuatu yang dicintai dan diinginkannya. Kadar pesona bahagia yang dirasakan jiwa sangat tergantung dari kadar cinta terhadap sesuatu yang dicintainya tersebut, begitupun kadar kesedihan sesuai dengan derajat dan kekerapan akan kehilangan yang dicintainya.
Dari hadits ini dapat dimaknai bahwasannya kebahagiaan dan kesedihan merupakan instrumen keimanan bagi setiap muslim, sangat berbeda dengan konsep kebahagiaan dan kesedihan yang dipahami dan diyakini di dunia barat. Kebahagiaan dan kesedihan yang dirumus ajarkan Rasullullah ini melampaui ruang materialitis. Kebahagiaan dan kesedihan yang dimaksud berupa kesadaran utuh manusia yang memasukkan iman sebagai akar keberadaan dan keberfungsiannya.
Mutiara Hadits
Hadits yang mulia ini walaupun tidak diriwayatkan dalam kutubusittah, namun hadits ini dinilai shahih/ valid oleh pakar hadits, yaitu: Ahmad Syakir dan Syu’aib al-Arnauth ketika beliu melakukan tahqiq (pengkoreksian) terhadap kitab Musnad Imam Ahmad bin Hambal, begitupun al-Albanî dalam kitab takhrij Misykah bahkan Imam Baihaqi memasukan hadits ini ke dalam kitabnya yang berjudul Syu’abu al-Imȃn.
Dalam hadits di atas dsebutkan bahwa bahagia atas kebaikan yang dapat ditunaikannya merupakan tanda bahwa iman bersemayam di jiwanya. Kebajikan itu sebajik namanya, seramah wujudnya, dan sangat manis rasanya. Orang-orang yang pertama kali akan dapat merasakan manfaat dari semua itu adalah mereka yang melakukannya. Mereka akan merasakan “buah”nya seketika itu juga dalam jiwa, akhlak, dan nurani mereka. Sehingga, mereka pun selalu lapang dada, tenang, tenteram dan damai. Perbuatan baik itu laksana wewangian yang tidak hanya mendatangkan manfaat bagi pemakainya, tetapi juga orang-orang yang berada di sekitarnya. Dampak positif yang dirasakan bahwa manfaat psikologis dari kebajikan itu terasa seperti obat-obat manjur yang tersedia di apotik orang-orang yang berhati baik dan bersih, selain itu rasa bahagia yang dirasakan dapat memberikan kontribusi dalam tumbuh kembang otak dan kecerdasan, dalam sebuah penelitian dengan alat pemindai otak manusia, bahwa rasa bahagia memberikan gradasi warna yang cerah dan terang, lantas bagaimana jika kebahagiaan itu tumbuh dari penyemaian benih kebaikan.
Rasa Bahagia di Akhirat
Mencintai kebaikan merupakan Nama dan Sifat Allah, bahkan Allah Yang Maha Pengasih memberikan apresiasi yang sangat besar, sebagaimana yang telah ketahui dari sebuah hadits dalam riwayat Muslim, bahwa Allah Ta’ala telah mengampuni seluruh dosa bahkan memasukannya ke dalam surga seorang wanita pelacur dikarenakan memberi minum seekor anjing yang sedang menderita karena kehausan, dapat kita bayangkan, kiranya apa yang ada di hati wanita tersebut, selain keikhlasan? Serta kebahagiaan macam apa yang dapat melebihi kebahagiaan yang dirasakan wanita itu? Kebahagiaan yang terlahir dari kemampuan melakukan kebajikan merupakan tanda atau alamat diterimanya amal oleh Allah Ta’ala, maka bagi individu yang melakukan sebuah amal kebaikan namun hatinya tidak merasakan bahagia, ketenangan, dan kedamaian, maka amal tersebut terdistorsi niat yang tidak ikhlas, sebagaimana hal ini diuraijelaskan oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah.
Rasa Bahagia di Dunia
Kebahagian yang terlahir dari seorang mu’min yang senantiasa berbuat kebaikan meliputi kehidupannya, baik di dunia maupun akhirat, jika di kebahagiaan akhirat telah dipaparkan, maka kebahagiaan dunia yaitu terbendungnya ia dari kefakiran atau kemiskinan, sebagaimana yang tercantum dalam hadits riwayat Ibnu Majah, bahwasannya orang-orang yang meluangkan waktunya untuk melakukan ibadah (kebaikan) maka hatinya akan disesakpadati kekayaan oleh Allah Ta’ala dan dijauhkan kefakiran dalam dirinya. Sungguh bagi ahli dunia kekayaan memiliki batas dan ruang, sehingga mereka menyempitkan makna kekayaan dengan satu nama yaitu harta, tapi dalam hadits ini, ahli kebaikan memiliki kekayaan yang melampau batas dan ruang, yaitu di dalam hati, benarlah sabda Rasulullah “ Kekayaan bukanlah banyaknya harta, namun kekayaan yang sesungguhnya adalah kekayaan hati.” (HR. Al-Bukhari). Kasih dan Sayang Allah terhadap orang-orang yang menjadikan kebaikan sebagai karakternya akan meliputi anak keturunannya, sebagaimana yang telah diuraijelaskan oleh para mufasir (ahli tafsir) ketika mereka menjelaskan (QS. Al-Kahfi: 82), bahwasannya penjagaan Allah terhadap anak yatim yang disebutkan dalam ayat dikarenakan bahwa Ayahnya dulu adalah ayah yang shalih, hamba yang selalu mencintai dan berbahagian dengan kebaikan.
Bersedih dengan Keburukan adalah Energi untuk Bertaubat
Sungguh keburukan yang dilakukan bukan hanya mendatangkan rasa sedih, tapi keburukan yang dilakukan memiliki rasa perih yang tiada terkira, sehingga hati orang-orang yang memiliki cahaya keimanan tak akan sanggup untuk menyembunyikannya, mereka segera berlari menuju Al-Ghafûr Ar-Rahîm, bersimpuh dengan jiwa yang luruh, mengakui kesalahan, kekhilafan, kedurhakaan, dan pembangkangan yang ia persembahkan kepada Rabbnya walaupun ia harus berkalang tanah, sebagaimana tercatat dalam sebuah hadits riwayat Muslim yang mengisahkan tentang wanita al-Ghamidiyah yang menebus keburukannya dengan kematian yang mulia. Kesedihan dan penyesalan terhadap sebuah keburukan adalah salah satu indikator taubat seorang hamba diterima Allah Ta’ala.
Standar Kebaikan dan Keburukan
Dalam redaksi (matan) hadits di atas, kata kebaikan dan keburukan dilekatkuatkan dengan kata iman, maka sudah pasti standar kebaikan dan keburukan harus sesuai dengan ajaran syari’at. Andaikata mau jujur dengan suara hati, setiap manusia dapat mengenali kebaikan dan keburukan sebagaimana dalam hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam “Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan adalah apa saja yang menenangkan hati dan jiwamu. Sedangkan dosa adalah apa yang menyebabkan hati bimbang dan cemas meski banyak orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan kebaikan.” (HR. Ahmad dan ath-Thabrani), Ibnu Hajar al-Asqalani menilai hadits ini hasan ketika mentakhrij kitab Misykȃh al–Mashȃbih. Kebenaran dan kebaikan yang terlahir dari suara hati, bening, murni, dan tak butuh argumentasi. Kebenaran apa adanya, kebenaran yang sederhana tanpa cela. Suara hati dapat menegur pemiliknya ketika tergelincir dalam kesalahan, rasa bersalah adalah kekuatan yang muncul dari keperkasaan suara hati agar pemiliknya senantiasa bersama kebaikan. Merupakan kewajiban bagi setiap muslim untuk tetap memelihara kemurnian suara hati, agar rasa bersalah dan sedih karena keburukan tetap dapat berfungsi menegur dan mengingatkanmu untuk terus berada dalam kebaikan dan kebenaran. Allahu a’lam.